Home > Drama > Sang Pencerah

Sang Pencerah

Sang Pencerah Poster

Sang Pencerah Poster

Jarang sekali film-film Indonesia membuat sebuah film yang mengangkat biografi seorang tokoh. Kita bisa menghitungnya dengan jari seperti film Cut Nyak Dien, film Wali Songo (walaupun penuh mistis), film Pangeran Diponegoro, Fatahillah dan lain-lain. Sang Pencerah pun adalah salah satu film biografi. Sebuah film karya Hanung Bramantiyo yang mengisahkan tentang biografi seorang ulama pendiri Muhammadiyah, yaitu KH. Ahmad Dahlan. Saya menonton film ini sebanyak 2 kali, terlebih untuk mengetahui dan sekaligus menjadi bahan review dari film ini.

Story

Cerita ini diawali dari sosok Muhammad Darwis, yang mana ia adalah putra dari KH. Abu Bakar. Ia lahir pada tanggal 1 Agustus 1868 di Yogyakarta. Saat itu Yogyakarta masih dalam penjajahan Belanda. Umat Islam di Yogyakarta masih terpengaruh oleh kebudayaan yang kental, sehingga nilai-nilai kesyirikan masih melekat kuat di dalam ibadah-ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin. Darwis muda pun melihat hal ini sebagai sebuah kesalahan. Bagaimana mungkin Islam yang murni harus tercampuri hal-hal yang kotor tersebut. Para kyai dianggap orang-orang suci, tangan mereka dijadikan rebutan untuk disalami, bahkan banyak hal-hal yang sebenarnya bukan dari ajaran Islam dianggap sebagai ibadah, seperti memberikan sesajen kepada pohon, bahkan sebelum masuk bulan Ramadhan orang-orang diharuskan mandi di sebuah kolam yang mana katanya kalau tidak mandi di kolam tersebut puasanya tidak sah.

Muhammad Darwis pun belajar ke tempat Islam pertama kali lahir, yaitu di Makkah, Saudi Arabia. Di sana sekaligus melaksanakan haji dan umroh, ia belajar kepada salah seorang ulama yaitu Syaikh Muhammad Abduh. Dan sebagian pemikirannya pun melekat pada dirinya. Setelah 4 tahun belajar di negeri orang ia pun kembali membawa pemikirannya. Ia menjadi khatib di masjid Agung Yogyakarta dan akhirnya menyebarkan pemikirannya. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Ternyata pemikiran-pemikirannya yang mengajak setiap orang untuk kembali kepada ajaran islam yang benar tidak disenangi oleh beberapa orang kyai besar.

Walaupun tidak disengangi ia tetap berdakwah, mendirikan langgar dan hingga akhirnya ia mendapati arah kiblat yang ada di masjid-masjid di Yogyakarta tidak sempurna menghadap ke arah Ka’bah. Ia pun mendiskusikan hal ini dengan para kyai yang ada di Yogyakarta, ia membawa peralatan seperti kompas dan peta. Namun hal tersebut malah dianggap KAFIR karena alat-alat tersebut buatan orang-orang kafir dan menggunakannya adalah sama saja dengan kafir, begitu kata salah satu kyai besar. Hal itu membuat Ahmad Dahlan diam tak bisa bicara banyak. Namun karena ajaran-ajaran yang dibawa oleh KH Ahmad Dahlan begitu mudah, yaitu dengan mengatakan “tidak wajib” melakukan tahlilan dan Yasinan, membuat banyak orang mengikutinya. Dan juga beberapa hal-hal yang sudah melekat dan menjamur di kalangan umat Islam saat itu yang mereka anggap benar padahal tidak akhirnya ditinggalkan. Hal ini membuat beberapa orang tidak suka kepadanya. Hingga puncaknya orang-orang pun diprovokasi oleh salah satu kyai agar menghancurkan langgar milik Ahmad Dahlan. Para pengikut Ahmad Dahlan pun mencoba menghalangi tapi tak berhasil.

Semula Ahmad Dahlan mau hijrah, karena di kota kelahirannya sendiri ia tak bisa berdakwah. Namun atas bujukan kakaknya ia pun akhirnya luluh dan tidak jadi berangkat. Terlebih setelah kakaknya rela membangunkan langgar lagi untuknya. Perjuangan Ahmad Dahlan memang berat, terlebih ia tak mendapatkan dukungan. Akhirnya ia meminta dukungan Sultan Hamengkubuwono IX. Dari situlah akhirnya Ahmad Dahlan setuju untuk bergabung dengan Budi Utomo dan Syarikat Dagang Islam. Dakwah Ahmad Dahlan pun makin luas. Ia akhirnya mengajar agama di sebuah sekolah OSVIA. Awalnya para murid diberikan isu bahwa kyai itu baunya tidak enak, tidak pakai alas kaki dan pakaiannya tidak rapi, ternyata sosok Ahmad Dahlan tidak demikiannya, ia pakai sepatu, baunya wangi dan sangat rapi. Kesan pertama yang diberikan membuat banyak siswa yang tertarik belajar Islam bahkan salah satu muridnya ingin belajar langsung di langgarnya.

Salah satu kyai yang berasal dari jauh pun datang ingin memprotes tentang alat-alat yang digunakan untuk Ahmad Dahlan mengajar seperti meja dan papan tulis. Ia mengatakan bahwa itu alat-alat yang digunakan oleh orang-orang kafir, sehingga menggunakannya pun dianggap KAFIR. Dialog antara Ahmad Dahlan dan Kyai ini pun menarik. Kurang lebih seperti ini.

Ahmad Dahlan: “Maaf kyai, apakah kyai ke sini jalan kaki?”

Kyai: “Hahaha, saya ini tidak bodoh. Tidak mungkin saya ke sini jalan kaki. Saya ke sini naik kereta. ”

Ahmad Dahlan: “Oohh…, berarti hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa apa yang saya pakai ini adalah kafir”

Kyai: “Lho, koq bisa?”

Ahmad Dahlan: “Bukankah kereta juga buatan orang kafir kyai?”

Ahmad Dahlan pun kemudian mendirikan sebuah organisasi yang terlepas dari Serikat Islam. Ia mendirikan Muhammadiyah, sebagai organisasi keagamaan. Quote yang paling terkenal adalah “Hidup-hidupkan Muhamadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Ahmad Dahlan pun akhirnya mundur sebagai khatib di masjid Agung Yogyakarta. Ia lebih konsentrasi dengan organisasi serta langgarnya. Cerita ini diakhiri dengan damainya perselisihan antara Ahmad Dahlan dan para kyai lainnya.

Review

Memang benar kalau cerita di film ini ada bagian-bagian yang tidak sesuai dengan sejarah aslinya. Kalau di film perjuanga yang lebih ditonjolkan oleh Ahmad Dahlan adalah arah kiblat, padahal tidak seperti itu. KH. Ahmad Dahlan lebih berjuang untuk tauhid dan menghapus kesyirikan, takhayul, bid’ah dan khurafat. Dan karena hal inilah akhirnya banyak kyai yang tidak suka terhadap KH. Ahmad Dahlan. Mungkin ada alasan khusus yang mengakibatkan Hanung Bramantiyo tidak menceritakan kisahnya.

Film ini sedikit bernada subversif terhadap sikap para santri yang terlalu berlebihan terhadap kyai mereka. Seperti berebut tangan cium kyainya, atau berebut minumnya. Film ini juga menceritakan betapa orang yang sudah terkena penyakit taqlid atau “apa kata kyai” mereka akan melakukan apapun yang sesuai dengan kyainya sekalipun yang dilakukannya adalah salah. Film ini juga mempunyai misi untuk menyebarkan toleransi dalam keberagaman. Jangan terkejut kalau di dalam film ini sering muncul kata-kata KAFIR dalam dialognya. Saya tak mengerti apakah penggambarannya memang seperti ini kala itu.

Dialognya sudah cukup kuat, dan Lukman Sardi pun membawakan peran Ahmad Dahlan dengan pas. Istri Ahmad Dahlan yaitu Nyai Siti Walidah diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Keduanya memang sudah berpengalaman dalam berbagai layar perfilman di Indonesia. Dan tak akan sulilt memerankan peran-peran seperti ini. Saya rasa film ini cocok untuk ditonton oleh seluruh keluarga, ada pun untuk anak kecil harus didampingi karena banyak sekali dialog tentang kafir-kafiran yang seharusnya tidak perlu ada.

Crew

Cast: Luqman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Slamet Rahardjo, Giring Ganesha, Ihsan Taroreh

Producer: Raam Punjabi

Sutradara: Hanung Bramantiyo

Distributor: Multivision Plus

Tahun: 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan komentar dong bero

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: