Home > Action, Martial Arts > The Raid

The Raid

The Raid 2011 Movie Poster

The Raid 2011 Movie Poster

“The Raid dibenci hama dicintai petani”, bunyi sebuah iklan pembasmi hama. Eits… bukan, bukan, bukan (meniru suara Upin dan Ipin). The Raid kali ini adalah sebuah film layar lebar bergenre silat buatan Gareth Huw Evans, seorang sutradara dari Wales. Dia jugalah yang menggarap Merantau. Gareth Huw Evans menyutradarai, sekaligus menjadi pengedit dan juga ide ceritanya. The Raid (2011) adalah judul untuk internasional, untuk judul Indonesia dipilih Serbuan Maut. Namun akhirnya nama The Raid lebih dipopulerkan, dan judul resmi untuk versi internasional adalah The Raid: Redemption.

Story

Cerita The Raid berawal dari sebuah adegan seorang pemuda bernama Rama (Iko Uwais) yang latihan di ruang pribadinya. Lalu ia melakukan sholat subuh, setelah itu memakai pakaian polisi, mempersiapkan senjatanya dan terakhir mencium perut istrinya yang sedang hamil. Itu adalah satu-satunya adegan romantis yang ada di film ini, selebihnya anda harus bersiap-siap menerima adegan demi adegan tegang yang tersaji di dalam cerita The Raid.

20 orang polisi elit ditugaskan untuk menggerebek sebuah apartemen 30 lantai yang di dalamnya bersembunyi seorang gembong mafia narkoba dan juga bos para preman yang bernama Tama (Ray Sahaetapy). Sersan Jaka (Joe Taslim) harus mengkomandoi 19 anak buahnya, membriefing seberapa berat misi mereka kali ini. Mereka sudah terlanjur berangkat dan tidak bisa pulang sebelum membawa hasil. Ada di antara anggota polisi itu ketakutan. Tapi Rama (Iko Uwais) tetap berusaha tenang. Dijelaskan juga bahwa target mereka selain menangkap Tama, juga harus menghadapi Mad Dog (Yayan Ruihan) dan juga Andi (Donny Alamsyah).

Adegan awal pun langsung disuguhi Tama yang mengeksekusi para pengkhianat dengan revolvernya. Satu per satu ambruk, dan kamera pun secara zoom memperlihatkan ekspresi ketakutan orang-orang tersebut. Karena revolvernya pelurunya habis, Tama pun mengambil martil untuk menghabisi korbannya. Yup, sadis. Sangat dianjurkan ANDA TIDAK MEMBAWA ANAK KECIL untuk menonton film ini. Walaupun memang Layar Kotak melihat beberapa penonton yang masih anak-anak. Di mana orang tua mereka?

Adegan selanjutnya adalah upaya Tim SWAT ini untuk masuk ke apartemen tersebut. Di TKP ternyata sudah menunggu Letnan Wahyu. Mereka pun berusaha untuk masuk. Namun ketika mereka masuk, ternyata diketahui oleh penghuni apartemen tersebut. Kemudian lampu di apartemen itu dimatikan semua dan Tama mengundang setiap orang yang ada di apartemen tersebut untuk bisa membunuh anggota Tim SWAT. Yang bisa membunuh akan diberikan imbalan berupa gratis sewa seumur hidup. Tentunya para penghuni apartemen yang terdiri dari preman dan gembong narkoba itu pun sangat bersemangat.

Demikianlah akhirnya adegan bunuh membunuh antara anggota kepolisian dengan para penjahat terjadi. Dari sini terlihat anggota kepolisian sangatlah terdesak, mereka diserang dari berbagai sudut hingga tidak bisa keluar. Satu-satunya cara untuk keluar hanyalah dengan menangkap Tama. Dari jendela mereka diserang oleh sniper, dari dalam apartemen mereka diserang oleh preman-preman yang sudah siaga dengan golok-golok mereka. Ditambah lagi Mad Dog mulai ikut-ikutan terlibat dalam hal ini.

Adegan demi adegan action tidak bisa dipungkiri membuat para penonton menahan nafas sampai akhirnya Rama bertemu dengan Andi. Dari sini kemudian mereka bisa bernafas sejenak, karena ini merupakan adegan dialog yang lumayan panjang. Walaupun sekali lagi Iko Uwais menampakkan dialog yang absurd. Namun aktingnya kali ini lebih bagus daripada Merantau. Dari sini terkuaklah bahwa Andi adalah kakak dari Rama. Setelah ia menolong Rama dan mengobati luka-luka Rama, ia kembali menghadap Tama bersama Mad Dog. Sayangnya Tama mengetahui bahwa Andi berkhianat kepadanya, dan Andi pun disiksa oleh Mad Dog di ruangan khusus.

Lalu Rama, beserta seorang anggota Tim SWAT dan Letnan Wahyu menyerbu ke atas. Namun di tengah perjalanan Rama mendengar teriakan Andi yang disiksa oleh Mad Dog. Di sinilah adegan yang paling ditunggu-tunggu Iko Uwais feat Donny Alamsyah vs Yayan Ruihan. Tak perlu ditanya lagi bagaimana adegan pertarungan yang terjadi antara mereka bertiga, hingga kemudian beberapa misteri pun terkuak, kenapa para polisi ini harus menyerbu markas Tama tanpa bantuan.

More suspense, More Action

Kalau Anda bandingkan film ini dengan film Merantau, tentunya sangat jauh. Film ini sangat menonjolkan sisi aksinya. Sehingga Anda tidak akan terkejut kalau hampir tidak ada ceritanya film ini selain menceritakan tentang survive-nya para anggota polisi yang menyerbu markas Tama. Film ini pun sebenarnya bisa dikembangkan lagi oleh Gareth Huw Evans. Bahkan ia berjanji akan membuat sequelnya berjudul Berandal.

Seluruh koreografi yang ada di film ini digarap langsung oleh Iko Uwais dan Yayan Ruihan. Bahkan dengan pengaturan kamera yang aktif, membuat adegan demi adegan serasa nyata. Bahkan sempat juga orang bertanya-tanya apakah stuntmannya baik-baik saja kena bacokan dan pukulan seperti itu? Tak salah rasanya jika film ini mendapatkan penghargaan sebagai Midnight Madness Show di Festival Film Toronto.

Did you know?

– Adegan teraneh adalah adegan di mana 2 sopir yang sedang menjaga kendaraan Tim SWAT duduk-duduk di dalam kendaraan sambil membicarakan bola. Mereka pun tewas diberondong peluru AK-47. Layar Kotak anggap hal itu pantas mereka dapatkan, selain aksen bicaranya yang aneh, mereka pun mendapatkan peran yang tidak penting.

– Senjata yang digunakan oleh anak buah Tama adalah AK-47, sedangkan para polisi menggunakan M-16 dan MP-4. Tama menggunakan Revolver Colt SAA untuk mengeksekusi para pengkhianat. Mad Dog membawa sebuah pistol berreta dan Letnan Wahyu menggunakan revolver.

– Beladiri yang digunakan di dalam film ini adalah silat, street fighter, dan juga judo. Joe Taslim menggunakan upper body-nya ketika melawan Mad Dog, karena ia termasuk orang yang menekuni beladiri judo.

– Ray Sahaetapy sangat cocok memerankan Tama, dengan ekspresinya yang dingin dan juga pengalmannya bertahun-tahun di kancah perfilman Indonesia, membuat semua pemeran yang main di dalam film ini berasa jauh levelnya.

– Korban di pihak kepolisian berjumlah 20 orang? Koq bisa? Pasukan Tim SWAT ada 21 orang ketambahan Letnan Wahyu yang sudah menunggu. Plus ditambah 2 sopir jadinya ada 23 orang. Yang selamat di akhir cerita ada 3 orang artinya ada 20 orang yang tewas dalam insinden tersebut.

– Untuk apartemen yang dipakai shooting ini kalau anda jeli, di gerbang akan terlihat jalanan ibu kota yang macet. Padahal jaraknya dengan jalan boleh dibilang sangat dekat. Tapi tidak ada satupun yang mendengar bunyi ledakan dan tembakan di lingkungan apartemen itu. Padahal bunyi pistol saja bisa terdengar antar lantai di dalam apartemen🙂

– Total adegan ini hanya berlangsung di lantai 1-7, kemudian lantai 14 dan 15.

– Untuk versi Internasional (The Raid: Redemption) Score digarap oleh Mike Shinoda dan Joe Trapaneese.

– Di Indonesia The Raid telah ditonton lebih dari 1 juta penonton. Bersamaan dengan itu bajakan berupa CAM version versi The Raid Redemption telah beredar di internet.

– Tidak lama kemudian dibuatlah komik berdasarkan film The Raid yang diterbitkan oleh Mizan. Komik ini lebih bercerita dari sini tokoh antagonis dibandingkan dari tokoh polisinya.

– Film ini menghabiskan lebih dari 1 juta US$ dan Gareth Evans tahu betul cara menghabiskan uang ini sehingga mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit bersaing dengan pendapatan film The Hunger Games.

– Tagar #MadDog menjadi trend di twitter ketika film ini sedang tayang di bioskop -bioskp di Indonesia. Tagar ini berisi joke-joke seputar Mad Dog. Sangat mirip seperti joke-joke Chuck Norris.

Filosofi

The Raid adalah sebuah potret dari kebobrokan hukum di sebuah negeri yang bernama Indonesia. Di mana polisi dijadikan boneka oleh mereka yang mempunyai uang berlebih. Di sini juga sebuah potret di antara orang-orang yang berbuat jelek, masih ada orang yang berusaha membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan. Film ini juga memberikan sebuah filosofi bahwa sejahat-jahatnya seorang saudara kandung, ia tetaplah saudaramu. Ia akan menyayangimu sekalipun kita berbeda jalan. Seorang ayah akan selalu mencintai anaknya sekalipun orang tuanya berada jauh darinya.

Film ini juga memberikan gambaran, betapa para polisi itu mendapatkan tugas-tugas berat yang harus mereka emban. Bahkan bisa jadi nyawa mereka seperti daun-daun pepohonan yang meranggas di musim semi. Nilai-nilai dalam film ini pun mengajarkan bahwa dendam hanya akan menghasilkan kehancuran baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sebagaimana Letnan Wahyu yang sangat dendam kepada Tama, malah mengorbankan pasukannya sendiri bahkan dirinya. Dan satu lagi nilai klasik dalam film silat adalah kejahatan pasti kalah.

Kalau Anda penggemar film thriller mungkin banyak ending-ending yang mengambang. Tapi khusus untuk film action dan silat, ceritanya hampir selalu happy ending. Dan kita langsung disuguhkan siapa yang jahat siapa yang baik. Hingga kemudian di akhir cerita selalu dikisahkan yang benar selalu menang dan yang jahat selalu kalah. Tidak seperti sinetron tentunya yang mana yang benar selalu kalah sampai akhir episode.

Nilai

Saran Layar Kotak, film ini diberi nilai 9 dari 10. Wajib dan layak untuk anda tonton kalau Anda mengaku cinta kepada film-film Indonesia. Dan Layar Kotak tidak akan bicara panjang lebar mengenai film ini selain film ini benar-benar hebat.

Crew:

Cast: Iko Uwais (Rama), Joe Taslim (Jaka), Yayan Ruihan (Mad Dog), Doni Alamsyah (Andi), Ray Sahaetapy (Tama), Pierre Grunno (Wahyu)

Music by: Aria Prayogi (Original), Fajar Yuskemal (Original), John Trapaneese (Internasional), Mike Shinoda (Internasional)

Producer: Ario Sagantoro

Director, Edited, Written By : Gareth Huw Evans

Categories: Action, Martial Arts Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan komentar dong bero

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: